Jakarta- Ketua Umum Persaudaraan Alumni atau PA 212 Slamet Maarif tak terima dengan kekuasaan masa pemerintahan Joko Widodo dan Ma’ruf Amin sebagai presiden dan wakil presiden 2019-2024.

Slamet menyatakan bahwa pihaknya tetap berpegang teguh pada hasil Ijtimak Ulama 4 yang tak menerima hasil Pilpres 2019 lantaran diduga penuh dengan unsur kecurangan.

“PA 212 berpegang pada hasil Ijtima ulama 4 salah satu poin utamanya menolak kekuasaan yang dihasilkan dari kecurangan dan kezaliman serta menjaga jarak dengan kekuasaan tersebut,” jelas Slamet melalui perpesanan singkat, Minggu (20/10).

Juru Bicara Front Pembela Islam (FPI) tersebut mengatakan bahwa PA 212 tidak akan pernah menerima untuk melakukan rekonsiliasi dengan pihak yang kerap mengkriminalisasi ulama.

Dia menjelaskan bahwa PA 212 tetap akan melakukan perlawanan terhadap pemerintahan yang dianggap dzalim. Bahkan mereka tak akan sedikit pun berpikir untuk bergabung dengan Jokowi kendati pemimpin yang semala ini mereka dukung, Prabowo Subianto, berbelok untuk bergabung dengan koalisi pemerintah.

Slamet menuturkan akan tetap menghargai keputusan Prabowo dan Gerindra yang memutuskan untuk merapak ke kubu pemerintah. Namun, ia tetap merasa kecewa dengan keputusan yang telah diambil oleh Prabowo.

“Kami menyayangkan keputusan Prabowo Subianto yang pastinya melukai perasaan pendukungnya, termasuk emak-emak militan,” terang Slamet.

Kemarin, presiden dan wakil presiden terpilih Pilpres 2019, Joko Widodo dan Ma’ruf Amin, dilantik secara resmi oleh MPR RI. Jokowi-Ma’ruf resmi menjadi Presiden RI pada periode 2019-2024 setelah berhasil memenangkan kontestasi politik melawan Prabowo-Sandi.

Saat itu, Jokowi-Ma’ruf mendapatkan total suara 85.607.362 suara atau 55,5 persen suara sah. Sementara Prabowo-Sandi mendapatkan total suara 68.650.239 suara atau 45,5 persen. (Hr-harianindo.com)