Jakarta – Melalui akun Twitter pribadinya, Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon juga turut mengomentari isu terorisme dan radikalisme. Selain belum mampu mencegah aksi teror, pemerintah diminta untuk berhenti mengeksploitasi isu radikalisme dan terorisme. Sebab, hal tersebut berdampak negatif terhadap investasi.

“Dalam tujuh belas tahun terakhir, sejak tragedi bom Bali, polisi sebenarnya telah menangkap lebih dari seribu orang terduga teroris. Menurut Komnas HAM, hingga 2016 ada sekitar 118 terduga teroris telah ditembak mati,” ungkap Fadli.

Dalam rentang waktu tersebut, Fadli menyebut bahwa operasi anti-teror Indonesia memakan waktu paling lama dan terbesar di dunia. Ia pun juga menyoroti besarnya anggaran yang tak sebanding dengan hasil operasi.

“Dari sisi anggaran, pada Juni 2018, Polri meminta tambahan anggaran Rp44 triliun untuk penanganan terorisme, khususnya untuk menunjang kegiatan Satgas Antiteror membasmi sel-sel teroris di tiap Polda seluruh Indonesia. Namun, upaya itu terbukti tak bisa mencegah terjadinya teror,” cuit Fadli Zon.

Baca Juga: Fadli Zon Menyebut Hubungan Jokowi dan Ahok Tak Sekedar Teman Politik

Selain itu, Fadli Zon juga menyebut bahwa pemerintah seharusnya tak boleh mengeksploitasi isu terorisme dan radikalisme. Sebab, hal tersebut akan berdampak negatif terhadap investasi di Indonesia.

“Sejak awal saya ikut mengingatkan Pemerintah sebaiknya berhenti mengeksploitasi isu radikalisme, juga terorisme, karena bersifat kontraproduktif bagi kepentingan jangka pendek dan jangka panjang kita,” ujar Fadli.

“Misalnya, bagaimana kita akan bisa menggenjot investasi, atau membangun kepercayaan dunia luar, jika pejabat pemerintah kita tiap hari berisik mengeksploitasi isu radikalisme dan terorisme?” imbuhnya.

Fadli kemudian menyebut bahwa data yang ia baca menunjukkan bahwa pernyataan negatif dari pemerintah adalah salah satu penyebab turunnya investasi. Sebab, para investor asing akan bergantung pada jaminan stabilitas yang biasanya diukur dari ujaran para pejabat.

“Para pejabat pemerintah sebaiknya stop memproduksi kegaduhan dengan isu radikalisme, teror dan semacamnya. Turunnya minat investasi ini memang harus kita perhatikan benar, karena bisa memicu terjadinya destabilisasi.” kata Fadli. (Elhas-harianindo.com)