Home > Ragam Berita > Ekonomi > Kritik Jokowi, SBY: Tolong Pajak Justru Tidak Diperberat

Kritik Jokowi, SBY: Tolong Pajak Justru Tidak Diperberat

Jakarta – Mantan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menelan ludah sendiri. Sebab, dia pernah menjelaskan bahwa tidak akan mengkritik kebijakan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Kritik Jokowi, SBY: Tolong Pajak Justru Tidak Diperberat

Kini SBY justru menjelaskan ada satu kebijakan yang sadis. Yakni, penerimaan pajak yang sangat besar dalam dua tahun terakhir. Sebagaimana diketahui, kondisi ekonomi saat ini sedang lemah. Karena itu, menurut SBY, sangat tidak tepat bila pajak digemplang sangat besar.

Berdasar informasi yang didapat Harian Indo pada Kamis (3/3/2016), target penerimaan pajak APBN 2016 mencapai Rp1.546,7 triliun. Pada 2015, target pajak tidak tercapai alias shortfall. Tahun lalu, penerimaan pajak pun hanya dipatok Rp 1.055 triliun atau 81,5 persen daripada targetnya Rp1.294 triliun di dalam APBN-P 2015.

Selain itu, SBY menjelaskan, pemerintahannya dulu telah memberikan insentif fiskal. Yakni, pengurangan pajak bagi perusahaan yang sedang mengalami gangguan keuangan dan bakal berujung PHK.

“Yang hampir PHK, ya mboknya pajaknya jangan digenjot dan diperas secara berlebihan. Kalau sudah normal, back to business as usual. Banyak cara untuk mencegah PHK. Yang jelas, government itu tripartid. Pekerja, pengusaha, dan pemerintah,” katanya

Menurut dia, secara rill, ekonomi Indonesia belum normal. Hal tersebut bisa dilihat dari adanya PHK, turunnya harga BBM tidak menurunkan harga barang yang telanjur sudah naik, dan nilai tukar Rupiah.

Karena itu, SBY pun berharap pemerintahan Jokowi membuat kebijakan yang tepat. ”Tidak boleh ada janji-janji baru. Selain itu, hukum harus ditegakkan dengan baik, spending dikurangi, dan kalkulasi APBN harus pas,” tutupnya. (tita Yanuantari – harianindo.com)

x

Check Also

Utang Indonesia Membengkak, Ini Kata Jusuf Kalla

Utang Indonesia Membengkak, Ini Kata Jusuf Kalla

Jakarta – Utang Indonesia diberitakan membengkak, yang disebabkan karena banyaknya proyek-proyek strategis yang sedang dikebut ...