Jakarta – Perang politik yang kian memanas di Pilkada DKI Jakarta tak lain dikarenakan maraknya isu SARA terkait agama yang beredar di masyarakat. Hal tersebut berbeda ketika era Henk Ngantung, seorang Nonmuslim yang pernah menjabat sebagai Gubernur Jakarta sebelumnya.

Henk Ngantung, Gubernur Nonmuslim Jakarta Pertama

Sama halnya dengan Ahok, pria keturunan Manado ini sebelum dipilih menjadi gubernur, ia lebih dulu menjabat Wakil Gubernur DKI Jakarta pada periode 1960-1964 dengan gubernurnya Sumarno. Henk menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta sejak 27 Agustus 1964 sampai 15 Juli 1965.

Pada saat itu, banyak kalangan yang protes atas pengangkatan Henk Ngantung. Salah satu alasannya karena Henk seorang nonmuslim. Namun, Bung Karno punya pertimbangan lain menjadikan Henk sebagai orang pertama di DKI.

Pada Agustus 2012, dalam sebuah wawancara, istri Henk Ngantung Evie Mamessa mengatakan, meski seorang nonmuslim, Evie mengatakan tidak pernah ada kasus SARA di masa kepemimpinan suaminya itu.

“Pak Henk seorang Kristen diangkat sebagai gubernur. Tapi enggak ada heboh-heboh SARA. Semua tidak ada yang marah karena bukan Islam,” ujar Evie.

Henk memang bukan terlahir sebagai birokrat. Dia adalah seniman yang hobi melukis. Henk bahkan sempat menorehkan karya lewat lukisannya.

Salah satu karya monumental Henk Ngantung yang masih bisa disaksikan warga Jakarta yaitu monumen Tugu Tani. Henk merupakan pembuat sketsa Tugu Tani yang saat ini berada di Jalan Ridwan Rais, Jakarta Selatan itu.

Baca juga: Kekuatan Ini Yang Disebut Bisa Menangkan Ahok-Djarot di Pilkada DKI

Henk mengakhiri masa jabatannya pada tahun 1965. Ia dijatuhkan karena dianggap sebagai salah satu bagian dari organisasi sayap PKI, Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Henk pun meninggal pada usia 71 tahun pada 12 Desember 1991 karena sakit jantung yang berkepanjangan. (Rere – harianindo.com)