Home > Ragam Berita > Nasional > Ini Kronologi ‘Pencekokan’ Miras Oleh Kapolres Simalungun Versi ‘Korban’

Ini Kronologi ‘Pencekokan’ Miras Oleh Kapolres Simalungun Versi ‘Korban’

Jakarta – Hermanto Purba atau Bobby telah diperiksa oleh tim dari Irwasda Polda Sumatera Utara terkait peristiwa ‘pencekokan’ minuman keras oleh Kapolres Simalungun AKBP Marudut Liberty Panjaitan.

Ini Kronologi ‘Pencekokan’ Miras Oleh Kapolres Simalungun Versi ‘Korban’

Bobby (BP) diperiksa selama enam jam di ruangan Intel Polres Siantar, pada Jumat (14/7/2017), mulai pukul 10.00 WIB hingga pukul 16.00 WIB di ruangan Intel Polres Siantar, Jumat (14/7/2017.

“Pemeriksaan tadi dari jam 10.00 pagi sampai jam 16.00 sore. Gak tahu aku jabatannya yang memeriksa, tapi setahuku tim dari Polda Sumut. Tadi santai saja saya jelaskan cerita sebenarnya dan tidak ada tekanan,” katanya usai pemeriksaan.

Dibeberkannya, selama diperiksa dirinya dicecar sekitar delapan pertanyaan, seputar awal mula minum, kronologi, siapa yang ada di lokasi, dan pernyataan sikap soal saya disebut dicekoki benar atau tidak. Pemeriksaan berjalan lancar dan santai.

“Saya jelaskan tidak ada pencekokan, kan pencekokan itu kalau misalnya rambut saya ditarik lalu dipaksa minum. Ya saya jelaskan saat itu saya sudah emang kebanyakan minum. Dengan Kapolres kami tos-tosan dan say hello intinya,” jelasnya.

BP juga menjelaskan dirinya tanpa ada tekanan dari pihak manapun. Saat kejadian yang disebut pencekokan BP mengaku sudah minum tuak tradisional di luar Restauran City.

“Secara pribadi saya tidak ada merasa dicekoki. Kami minum tuak jam 16.00 di luar. Di Miles (sekarang Restaurant City dan Studio 21) kami jam 22.00 minum mentah dua botol. Makin malam makin banyak datang kawan. Saya juga sempat cek keuangan (takut lewat bill),” katanya.

Awal mula bertemu dan akhirnya berteman dengan Kapolres itu ketika sampai pukul 00.00 lebih kasir datang dan nanya kami sampai jam berapa.

“Kok tumben nanya? Kami kan udah bayar. Jadi gak nyaman. Sebelum ke kasir saya sudah bengok di hall. Aku bilang siapa yang mau masuk? Di situ kudengar ada yang manggil namaku Bob Bob. Kudekati. Ada yang datang dan ngomong itu ada orang Polres. Balik aku ke kasir kubilang apa ada yang keberatan kami di VIP 21? Terus di situ lah datang kawanku si Jhon, kawan saya yang ngenalkan kalau itu Kapolres,” bebernya.

“Kuajak minum, beliau (Kapolres) menolak. Tapi beliau dipaksa sama si Jhon buat ngajak minum bareng. Di situ Jhon bilang ke Kapolres masak mentang-mentang kapolres gak mau lagi minum sama,” bebernya.

BP juga menerangkan keberadaannya di lokasi untuk menjamu kawan dari Jakarta. Ada Edo panjaitan sama Ewin Napitupulu.
“Gak lama keluar Edo dari vip dan rupanya kenalan lama dengan kapolres. Rupanya saudaranya pun mereka sama-sama Panjaitan,” terangnya sehingga minum bersama.

Kata BP, dirinya memang sudah sempat tidak kontrol diri, dan tersandar di kursi hingga digotong rekannya. Namun dia sudah tidak tahu dibawa kemana.

“Namanya juga sudah lemas saya sejak sore, jadi pas bangun sudah di kamar aja. Terus ada kawan (Wawan) bilang saya diberitakan kritis di rumah sakit. Lihat saya dia heran karena aku di kamar,” katanya.

Terkait fotonya yang beredar dengan kondisi telanjang dada di kasur, BP mengaku keberatan kepada peng-upload. Hal itu katanya telah merusak privasinya.

“Secara psikologis itu kan privasi. Itu kan bisa mengganggu saya dan keluarga. Apalagi gambar di kamar. Saya juga keberatan dengan gambar saya itu. Saya meminta pengupload gambar mencabut atau menghapus gambar. Makanya saya langsung jumpai kawan media demi menyatakan saya tidak sekarat dan di rawat di rumah sakit,” pungkasnya.
(samsul arifin – harianindo.com)

x

Check Also

Profesor Coppel : "Kata Pribumi Yang Digunakan Anies Aneh Dalam Tiga Hal"

Profesor Coppel : “Kata Pribumi Yang Digunakan Anies Aneh Dalam Tiga Hal”

Jakarta – Pilihan kata “Pribumi” yang digunakan Anies Baswedan dalam pidatonya yang menimbulkan polemik itu, ...