Home > Ragam Berita > Bejat, Guru Ngaji di Surabaya Cabuli Anak Dibawah Umur

Bejat, Guru Ngaji di Surabaya Cabuli Anak Dibawah Umur

Jakarta – Dua orang guru ngaji, Sunarto (35) dan Ahmad Syafii (36), yang tinggal di kawasan Medokan Semampir Indah, Surabaya, menjalani penyidikan oleh penyidik Sat Reskrim Polrestabes Surabaya.

Bejat, Guru Ngaji di Surabaya Cabuli Anak Dibawah Umur

Ilustrasi

Hal tersebut dikarenakan mereka disangkakan telah melakukan perbuatan asusila kepada sejumlah anak didiknya.

Sunarto dan Ahmad Syafii diduga melakukan pencabulan kepada murid-muridnyanya sendiri di sekretariat sebelah musala tempat mengaji. Sedikitnya ada 7 anak yang menjadi korban perbuatan asusila oleh kedua pelaku.

Baca juga : Pendemo Aksi Bela Rohingya Juga Menyentil PBB

“Kedua tersangka ini merupakan guru ngaji di tempat tinggalnya. Mereka melakukan pencabulan ke anak didiknya sediri,” sebut Humas Polrestabes Surabaya, Kompol Lily Djafar di Gedung Satreskrim Polrestabes Surabaya, Selasa (5/9/2017).

Dari 7 korban tindak kejahatan asusila yang dilakukan dua pelaku itu, 5 korban merupakan anak laki-laki dan 2 anak perempuan. Para korban ini semuanya masih di bawah umur dan merupakan murid pelaku.

Aksi kedua pelaku sudah berlangsung selama tiga bulan. Kejadian pertama dilakukan pada bulan April dan terus berlanjut hingga Juni. Lokasi tindak asusila selalu dilakukan di seketariat musala tempat untuk mengaji.

“Biasanya pencabulan dilakukan mada malah hari setelah mengaji, anatar Magrib sampai Isya. Murid-murid mengaji adalah warga kampung dan setiap harinya yang mengajar dua orang, yakni pelaku ini,” jelas Lily.

Dalam beraksi, kedua pelaku itu biasa melakukan usai memberikan anak-anak mengajar ngaji. Korban diminta untuk tinggal sementara dengan alasan mendapat materi mengaji tambahan. Kesempatan tersebut ternyata dipakai pelaku melakukan pencbulan.

Dari korban yang melapor ke polisi, ada salah satu korban perempuan yang sudah diseubuhi hingga18 kali. Ahmad Syafii yang merupakan tenaga konrak Satpol PP Pemkot Srabaya ini paling banyak melakukan pencabulan, yakni 7 korban. Sedangkan temannya, Sunarto hanya melakukan sekali.

Supaya korban mau melayani keinginannya, pelaku mengatakan kepada korban bahwa ilmu yang didapatkan tidak akan barokah jika tidak menuruti keinginannya.

“Saya juga menakut-nakuti korban akan dikeluarkan dari mengaji jika menolak,” ujar Sunarto.

Sunarto menuturkan, dirinya tidak sampai melakukan persetubuhak kepada korban. Ia melakukan pencaulan di seketariat musala.

“Saya melakukan sebelum puasa, itu pun hanya sekali saja,” tutur Sunarto lirih.

(Ikhsan Djuhandar – harianindo.com)

x

Check Also

Relawan PCA dan Solusi UI Deklarasikan Pasangan Prabowo – Mardani di Pilpres 2019

Relawan PCA dan Solusi UI Deklarasikan Pasangan Prabowo – Mardani di Pilpres 2019

Jakarta – Kelompok masyarakat yang menamakan diri Relawan Pancasila Cyber Army (PCA) dan Solidaritas Muslim ...