Jakarta – Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengumpulkan sejumlah menteri dan Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati di Istana untuk membahas persoalan harga avtur dan mahalnya tiket pesawat.

Jokowi Bahas Masalah Harga Avtur dengan Sejumlah Menteri

Usai rapat, Jokowi mengatakan bahwa pihaknya baru saja membahas hal itu dengan menteri-menteri terkait. Dia berjanji akan segera mengambil keputusan setelah menyelesaikan perhitungan.

“Tadi baru kita rapatkan. Saya udah perintahkan untuk dihitung. Mana yang belum efisien, mana yang bisa diefisienkan, nanti akan segera diambil keputusan. Segera,” kata Jokowi di Istana Negara, Rabu (13/2/2019).

Untuk saat ini, Jokowi masih belum bisa memaparkan opsi-opsi yang akan dikeluarkan untuk keputusan akhir. Mantan Gubernur DKI Jakarta ini masih membuat kalkulasi.

“Wong baru saya perintah tadi, untuk melihat, membuat perhitungan membuat kalkulasi, ada opsi-opsi seperti apa baru sampaikan kepada saya,” tuturnya.

Menteri BUMN Rini Soemarno menegaskan bahwa harga avtur Pertamina sudah cukup kompetitif. Dibandingkan dengan Singapura pun tak jauh berbeda.

Baca juga: Pengacara Abu Janda Tegaskan Belum Puas dengan Respons Facebook

Harga avtur Pertamina jadi sedikit lebih mahal karena adanya Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang dipungut pemerintah. “Kita lihat hitungannya sekarang, yang harus kita lihat hitungannya itu base-nya apa. Kita enggak terlalu beda jauh kok sama Singapura, tapi ya perbedaannya pajak. Di kita kena PPN, di mereka enggak kena,” kata Rini.

Karena itu, Rini mengusulkan agar avtur yang dijual Pertamina dibebaskan dari PPN supaya jadi lebih murah. “Ya kita ngusulin gitu sih ke Menkeu (Sri Mulyani), nanti kita lihat. Tapi kita lihat cost structure kita, saya sudah mendetailkan lagi, karena sekarang juga sudah ada surat dari Kementerian ESDM mengenai formula, jadi formula dari avtur base cost itu sama sekarang disamakan dengan Singapura dan lain-lain. Nah ini saya sekarang lihat di semua titik kita, base structure sudah seperti yang mengikuti formula ESDM atau bagaimana sehingga kalau itu kita bisa turun sampai berapa persen,” ujarnya. (Tita Yanuantari – harianindo.com)