Jakarta – Kabar mengenai tutupnya retail Giant sempat disinggung oleh Rizal Ramli. Menurutnya, hal tersebut adalah dampak dari kebijakan pengetatan anggaran (austerity) dari Menteri Keuangan Sri Mulyani. Bahkan, ekonom senior tersebut telah memperingatkan Presiden Jokowi 3,5 tahun yang lalu.

Menurut Menteri Perekonomian era Presiden Abdurrahman Wahid itu, kebijakan austerity yang tergolong kebijakan makro super konservatif tersebut hanya menguntungkan pihak kreditor utang dan investor asing. Sementara perekonomian dalam negeri akan kacau.

Kebijakan tersebut diprediksi oleh Rizal Ramli akan menyebabkan stagnasi pertumbuhan ekonomi di angka lima persen. Tak hanya itu, dampaknya juga pada daya beli masyarakat dan harga aset yang turun drastis.

Baca Juga: Rizal Ramli Kritik Kebijakan Pengetatan Anggaran Ala Sri Mulyani

Prediksi tersebut terbukti benar jika dibandingkan dengan kondisi perekonomian saat ini. Pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak dapat mencapai angka enam persen dan daya beli masyarakat pun menurun.

Selain itu, perusahaan besar seperti Giant dan PT Krakatau Steel menanggung kerugian yang besar. Perusahaan retail Giant melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) ribuan karyawan karena akan tutup. Sementara PT Krakatau Steel juga turut melakukan perombakan sebanyak ribuan karyawan.

“Hari ini sektor retail rontok, Giant tutup PHK, Krakatau Steel PHK. Investor China pesta karena asset price anjlok. Terjadi pergantian pola kepemilikan. Jokowi dikibuli,” papar Rizal Ramli pada Senin (24/06/2019).

Turunnya daya beli, menurut Rizal Ramli, jangan disangkal sebagai bentuk perpindahan aktivitas jual-beli masyarakat di sektor daring. Menurutnya, sektor e-commerce pun tidak dapat dibanggakan. Sebanyak 70 persen media platform daring hanya sebagai alat pemasaran produk-produk impor belaka.

“Jika nanti sektor retail dan online dikuasai asing, maka komplitlah ketergantungan impor menjadi permanen,” tutupnya. (Elhas-harianindo.com)