Home > Hiburan > Gosip > Inilah Alasan Mengapa Oki Setiana Dewi Dituding Mata Duitan

Inilah Alasan Mengapa Oki Setiana Dewi Dituding Mata Duitan

Jakarta – Beberapa hari kemarin tampaknya media sosial dihebohkan dengan keluhan para netizen mengenai mahalnya tarif dari Oki Setiana Dewi jika diundang dalam sebuah acara. Wanita yang berperan sebagai Anna dalam film Ketika Cinta Bertasbih itu memang sering mengisi sebuah acara bertema rohani dan tak jarang beberapa orang menyebutnya sebagai seorang ustadzah.

Inilah Alasan Mengapa Oki Setiana Dewi Dituding Mata Duitan

Namun, berdasarkan pantauan tim harianindo pada salah satu medai sosial, Selasa (3/4/2016), banyak netizen yang menyebut Oki Setiana Dewi sebagai ustadzah bayaran yang bahkan sombong dan mata duitan. Salah satu akun tampak memosting screenshot percakapan mengenai tarif yang dikeluarkan untuk dapat mendatangkan Oki sebagai pembicara. Pada percakapan yang terjadi di WA itu terlihat biaya untuk bisa mngundang OKI adalah Rp 35 juta.

Selain itu, pada akun @okijellydrink tertuliskan status “Tarif setajah 35 jetong ya buat off air (jangan lupa belum termasuk pesawat business class,mobil jemputan minimal xxx, hotel minimal xxx ples nyalahin panitia kalau dese telat)”. Hal ini tentu saja banyak netizen yang menganggap angkanya terlalu mahal jika dibandingkan dengan kapasitas yang biasa saja. (Rini Masriyah – Harianindo.com)

x

Check Also

Masuk Dunia Hiburan Sejak Usia 9 Tahun, Nikita Willy Sudah Terbiasa Hadapi Haters

Masuk Dunia Hiburan Sejak Usia 9 Tahun, Nikita Willy Sudah Terbiasa Hadapi Haters

Jakarta – Dalam kehidupan para selebriti di hampir seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia, pasti kerap ...

12465455_10205256660160520_652338149_o

Follow Kami Di Line @harianindo Friends Added

Portal Berita Indonesia

Saran dan Masukan Selalu Kami Tunggu Untuk Kami Membangun Portal Media Ini Agar Bisa Menjadi Lebih Baik Lagi. Hubungi Kami Jika Ada Saran, Keluhan atau Masukan Untuk Kami. Untuk Pemasangan Iklan Silahkan Kontak Kami di Page Pasang Iklan.

Aktual, Faktual dan Humanis