Home > Gaya Hidup > Kesehatan > Dampak Virus Zika Terhadap Janin

Dampak Virus Zika Terhadap Janin

Jakarta – Beberapa waktu ke belakang dunia kesehatan khususnya obstetri diguncang isu mengenai infeksi virus zika.

Dampak Virus Zika Terhadap Janin

Zika sempat menjadi epidemi di Afrika, Asia Tenggara, dan Kepulauan Pasifik, sebelum akhirnya kembali merebak di Brasil serta Kolumbia pada 2015. Pada Mei 2015, Pan American Health Organization (PAHO) menetapkan infeksi zika pada kehamilan sebagai darurat nasional di bidang kesehatan.

Sebagai negera beriklim tropis, Indonesia harus tetap waspada karena penyakit ini ditularkan melalui virus dengan vektor nyamuk. Sama dengan infeksi virus pada umumnya , infeksi zika menyebabkan gejala utama berupa demam tinggi yang timbul mendadak. Namun jika dibandingkan dengan demam Dengue, maka gejala klinis yang ditimbulkan relatif lebih ringan.

Gejala klinis infeksi zika antara lain demam, ruam kemerahan pada kulit, nyeri sendi, peradangan selaput mata, nyeri kepala, dan nyeri otot. Gejala terjadi hanya untuk beberapa hari, jarang lewat dari satu minggu, dan kemudian hilang dengan sendirinya. Hal ini karena pola self limiting yang cepat.

Infeksi self limiting adalah penyakit yang pada umumnya dapat sembuh dengan sendirinya. Itu sebabnya, banyak penderita yang mengira mereka hanya menderita flu biasa. Penderita sangat jarang mengalami gejala klinis berat hingga membutuhkan rawat inap, atau bahkan kematian.

Berikut daftar dampak virus zika terhadap janin Anda seperti dilansir dari metrotvnews.com, Senin (24/10/2016):

1. Pengendapan kalsium di dalam otak (kalsifikasi selebral) pada parenkim otak, serta daerah paraventrikular.

2. Kerusakan vermis serebelum (bagian otak yang terbentuk seperti cacing, berada di antara kedua

sisi otak kecil)

3. Disgenesis korpus kalosum (kumpulan serabut saraf yang lebar dan datar sepanjang 10 sentimeter

di bawah korteks)

4. Fisura Interhemisfer (antara bagian otak), dapat sangat luas, dikarenakan artrofi (pengecilan atau penyusutan jaringat otot atau jaringan saraf) otak.

5. Ventrikulomegali (pelebaran sistem ventrikel otak tanpa disertai perubahan abnormal diameter biparietal).

6. Kerusakan talamus (struktur simetris di dalam otak, terletak antara korteks otak besar dan otak

tengah).

7. Kerusakan pada batang otak dan pons (bagian batang otak, terletak di antara otak tengah dan otak bawah), di depan cerebelum.

Baca juga: Waspadai Demam Berdarah, Inilah Ciri-cirinya

8. Kerusakan mata: kalsifikasi, katarak, ukuran kecil, dan gambaran abnormal lainnya. (Yayan – harianindo.com)

x

Check Also

Cegah Peradangan dengan 3 Makanan Sehat Ini

Cegah Peradangan dengan 3 Makanan Sehat Ini

Jakarta – Peradangan kronis memiliki peran dalam menyebabkan penyakit seperti jantung, diabetes, arthritis, obesitas, dan ...

12465455_10205256660160520_652338149_o

Follow Kami Di Line @harianindo Friends Added

Portal Berita Indonesia

Saran dan Masukan Selalu Kami Tunggu Untuk Kami Membangun Portal Media Ini Agar Bisa Menjadi Lebih Baik Lagi. Hubungi Kami Jika Ada Saran, Keluhan atau Masukan Untuk Kami. Untuk Pemasangan Iklan Silahkan Kontak Kami di Page Pasang Iklan.

Aktual, Faktual dan Humanis